Kesehatan mental
Pelaku dan Korban Ghosting Bisa Terjadi dalam Berbagai Aspek Kehidupan Tidak Hanya Dalam Hubungan Perkencanan
Ilustrator: Sherly Intan Amalia
Menurut Roslina Verauli yang akrab dipanggil dengan sebutan mbak Ve, seorang clinical child, adolescent, and family psychologist yang juga pernah membahas tentang ghosting di laman Instagramnya, menyebutkan bahwa sejatinya ghosting merupakan suatu mekanisme defensive yang primitive. Dalam pembahasan tersebut, disebutkan bahwa "Ghosting justru menunjukan betapa immature sang pelaku. Ia bahkan tak mampu mengakui bahwa aksinya keliru. Mereka bahkan menghayati aksinya adalah tepat! Elegan! Baginya, tak perlu ada obrolan untuk berpisah dengan baik. Saat relasi dirasa tak lagi berjalan seperti yang ia mau, ia merasa punya hak untuk berlalu! Pengecut? Ada yang memang pengecut. Karena ia hanya ingin memproteksi dirinya sendiri meski menimbulkan luka pada orang lain. Mereka makhluk immature yang bersembunyi di balik mekanisme defense primitif, mekanisme denial dan avoidance!" tulisnya.
Lantas, sebaiknya respon apa yang perlu kita ambil dalam menghadapi si pelaku ghosting ini? Tidak perlu kecewa dan meyalahkan keadaan atau menyalahkan diri sendiri. Karena kamu, selaku korban ghosting tidak mempunyai kuasa atau kendali atas apa yang telah mereka perbuat. Tidak perlu mencari jawaban atau validasi mengapa mereka melakukan hal ghosting tersebut kepada kamu. Buang-buang waktu dan energi, juga tak banyak merubah apapun. Alangkah lebih baik jika kamu segera bangkit karena dengan kejadian tersebut, kamu jadi lebih mengatahui kualitas diri dari si pelaku ghosting.
Jika kamu terjebak di dunia pekerjaan atau percetakan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, justru sebenarnya baik untuk kamu mengetahui semuanya diawal. Karena dengan begitu, kamu, perusahaan, penulis, penerbit, atau pembaca bisa dengan mudah memutuskan atau mengambil tindakan selanjutnya yang sebaiknya dilakukan sehingga sama-sama merasa tidak dirugikan. Seperti yang dipaparkan oleh mbak Ve, “kamu tidak perlu sakit hati, segera sadar dan berbenah. Bahwa, kemarin keliru menilai hingga terperangkap dalam relasi yang berat sebelah. Sekarang saatnya menutup bab buku, lalu menyiapkan diri untuk sebuah bab baru, a new hello!” Tegasnya. Hal tersebut berlaku dalam aspek dan situasi apapun.
Luas memang pembahasan seputar ghosting ini. Bagi korban ghosting, di semua aspek kehidupan, sungguh mengecewakan memang menyadari bahwa kamu mengalami hal tersebut. Tidak ada yang happy saat mengetahui dirinya adalah korban ghosting, tapi tak ada yang lebih mengecewakan saat kamu terlalu lama terjebak dan terperangkap dalam relasi yang tidak sehat. So, demi kesehatan mental kamu, sebaiknya buka chapter baru dan berdamai dengan keadaan adalah langkah lebih baik daripada merasa terpuruk terus dalam kesedihan dan kekecewaan. Berterimakasih karena dengan adanya pengalaman ghosting tersebut, kamu bisa lebih menyikapi segala seusatu lebih baik dan bijaksana lagi. Are you ready? You can do it!
Read more info "Pelaku dan Korban Ghosting Bisa Terjadi dalam Berbagai Aspek Kehidupan Tidak Hanya Dalam Hubungan Perkencanan" on the next page :
Editor :Sherly Intan Amalia
Source : Laman Media Sosial Roslina Verauli